Nothing is truly wasted

Wah wah wah lama sekali saya tidak menulis cerita atau opini di sini, terakhir tahun 2022.

Kemarin siang terlintas untuk cek blog ini setelah mengalami kejadian yg relate dengan postingan terdahulu tentang "jangan membandingkan diri sendiri dg orang lain".

Sebenarnya tidak membandingkan, hanya berasa jauh berbeda kelas dan tidak mungkin bisa menyainginya. Setelah kejadian pun, saya tertawa gelitik.

Kisah dimulai dengan diutusnya saya sebagai perwakilan jurusan mengikuti lomba English Speech dalam rangka Dies Natalis kampus. Bukan paling pintar, karena masih muda 😎

Sejak surat edaran muncul, kurang lebih seminggu sebelum lomba, saya sudah mencoba membuat 4  naskah sesuai topik yg akan diundi nanti sebelum lomba dimulai. Setelah itu, saya kirimkan ke rekan selaku dosen Bahasa Inggris untuk dilakukan proofreading. Hanya satu hari, naskah sudah dikirim kembali. Sejak saat itu hingga menjelang lomba, saya berlatih agar sesuai durasi waktu yg ditentukan, 5 menit.

Long short story, hari Dies Natalis pun tiba. Kegiatan diawali dengan pemotongan tumpeng dan senam bersama seluruh civitas, dilanjut lomba-lomba di berbagai tempat berbeda. Lomba speech dilaksanakan di ruang rapat.

Sesampainya di ruang rapat, masih dengan napas terengah-engah mengambil no undian dan topik. Kertas menunjukkan no 1. Auto speechless. I can not word-word 😶

Berpose dengan nomor keberuntungan

Terdapat 11 peserta (10 orang yg mewakili setiap jurusan dan 1 perwakilan direktorat), 3 orang juri, dan beberapa panitia di dalam ruangan. Setelah pembukaan, lomba pun dimulai. Sebagai peserta yg mendapat undian no 1, saya pun mengawali perlombaan ini. Saya kira penyampaikan di kursi duduk masing-masing karena terdapat mikrofon di setiap meja. Peserta diminta menyampaikan di depan. Wah wah tambah gelagapan.

Waktu habis. Saya pun kembali ke kursi duduk untuk selanjutnya menonton peserta lain yg jauh lebih hebat. 

Lomba selesai, saatnya pengumuman. Congratulation for all the winners. You all deserved it.

Tiba-tiba teman peserta berbisik bahwa sang juara 1 adalah lulusan kampus luar negeri. Oh oke. Saya tidak berpikir apapun, hanya "oh pantes, udah biasa ngobrol sama native dong". Teman lain berpendapat seharusnya syarat peserta lomba bukan lulusan kampus luar negeri. Make sense sih, I am with you.

Pengumuman selesai, saatnya menonton teman lain yg akan lomba.

Beberapa teman menanyakan hasil lomba. Mereka memberi saya selamat telah berjuang dan semangat untuk lomba tahun berikutnya. Mereka pun tahu siapa sang juara ini.

Sore hari, iseng mencari info background pendidikan sang juara. Voilaaaa, ternyata beliau lulusan master di Australia dan Ph.D di US. Memang orang hebat, pantas menang, unggul di segala aspek poin penilaian.

Saya tidak iri ataupun benci kepada beliau, malah saya jadikan panutan dan motivasi untuk bisa melanjutkan sekolah di luar negeri. Saya pun menyadari skill saya yg jauh di bawah beliau dan juara lain. Beliau pun tidak salah karena tidak ada aturan yg dilanggar.

Yg saya sayangkan adalah syarat kepesertaan seperti yg disampaikan teman. Seperti tujuan lomba ini yg ingin menciptakan suasana kampus internasional, maka akan lebih adil jika pesertanya pun bukan lulusan luar negeri atau belum pernah mengikuti event di luar negeri. Semoga ini menjadi evaluasi panitia yg baru pertama kali diadakakan. 

Untuk diriku, kamu hebat. Kamu sudah berusaha sejak awal penunjukan. Kamu sudah membuat 4 naskah berbeda, mengajukan untuk proofreading, dan berlatih. Nothing is truly wasted.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Explanation

Untheme

Cerita dari dapur: Kunci masakan makin nikmat