DEATH AND CUTTING FINGER What do you do to show your sadness when one of your family died? Are you sad, crying, or maybe hysterical? It’s different with mountain communities in Papua especially for Dani ethnic in Wamena . They have a unique tradition that we never find it. Do you know what the tradition is? Right, the tradition is cutting finger. If one of their family died, they cut their knuckles. W hy they do it? They believe that the finger is a symbol of togetherness in their life. The fingers work together to build a force, so our hands can be used perfectly. If we lose one of the knuckles, our work doesn’t run maximally. Togetherness in family is like fingers working together. Dani ethnic cut their knuckles in various ways, such as: 1. using a sharp object directly, the tool is usuall...
Saya tidak pintar memasak, hanya sekedar hobi. Kalau hasilnya enak ya syukur, kalau kurang selera ya tetap dimakan. Paling senang memasak itu kalau ada ibu. Beliau harus menjadi tester . Apapun hasilnya, beliau harus tahu. Bisa dibilang, beliau menjadi saksi dan korban percobaan masakan saya. Saksi dan korban sejak rasa masakan yang masih kurang menyatu dan tekstur yang keras, hingga semuanya selaras di lidah. Cara masak saya pun mengikuti ibu. Sangat sederhana. Hanya menggunakan bumbu-bumbu dasar, yaitu cabai, bawang merah, dan bawang putih. Terkadang menambahkan bahan lain yang sifatnya menyesuaikan jenis makanan, misalnya sop dengan bumbu bawang putih dan merica. Kali ini saya ingin bercerita bahan ajaib yang saya tambahkan agar makanan makin nikmat dan nafsu makan meningkat. Siap-siap berat badan naik, ya. 1. Bawang merah dan bawang putih Seperti yang telah saya tuliskan, kedua bahan ini sifatnya wajib ada stok. Salah satu dari mereka harus ada di setiap masakan. Untuk tumisan, ten...
Wah wah wah lama sekali saya tidak menulis cerita atau opini di sini, terakhir tahun 2022. Kemarin siang terlintas untuk cek blog ini setelah mengalami kejadian yg relate dengan postingan terdahulu tentang "jangan membandingkan diri sendiri dg orang lain". Sebenarnya tidak membandingkan, hanya berasa jauh berbeda kelas dan tidak mungkin bisa menyainginya. Setelah kejadian pun, saya tertawa gelitik. Kisah dimulai dengan diutusnya saya sebagai perwakilan jurusan mengikuti lomba English Speech dalam rangka Dies Natalis kampus. Bukan paling pintar, karena masih muda 😎 Sejak surat edaran muncul, kurang lebih seminggu sebelum lomba, saya sudah mencoba membuat 4 naskah sesuai topik yg akan diundi nanti sebelum lomba dimulai. Setelah itu, saya kirimkan ke rekan selaku dosen Bahasa Inggris untuk dilakukan proofreading . Hanya satu hari, naskah sudah dikirim kembali. Sejak saat itu hingga menjelang lomba, saya berlatih agar sesuai durasi waktu yg ditentukan, 5 menit. Long short sto...
Komentar
Posting Komentar