Postingan

Aplikasi belajar daring, siapa yang bisa pakai?

Sering kepikiran tentang aplikasi belajar daring yang sedang hits saat ini. Jelas itu sesuatu yang keren dan hebat, mulai dari foundernya, ITnya, staf pengajarnya, dan staf lainnya. Idenya out of the box banget yang tidak terpikir oleh orang lain. Eh tapi tapi tapi.... kepikiran juga dengan siapa-siapa saja yang bisa akses aplikasi tersebut. Tentu tidak semua orang mampu dan bisa ya. Mampu. Tidak hanya bermodal smartphone, pengguna juga butuh akses internet dan biaya berlangganannya. Mereka yang sehari-hari bekerja berangkat pagi pulang malem tentu lebih memilih uangnya untuk makan keluarga. Bisa. Tidak semua anak dapat paham hanya dengan sekali atau dua kali penjelasan. Banyak dari mereka yang butuh berkali-kali penjelasan dan pengajar nyata di sampingnya. Beda dong ya cara menjelaskan suatu hal secara langsung dan maya? Apalagi untuk anak kecil dan kelas 1 SD yang belajar mengeja? Selanjutnya, apa kabar mereka yang tidak masuk kriteria "mampu" dan "bisa...

Dilema metode

Gambar
Kita semua tentu ingin bekerja secara maksimal meskipun dalam keadaan pandemi seperti ini. Setidaknya lebih banyak manfaat dibanding kerugiannya. Ya, itu juga menjadi salah satu yang pernah terlintas di pikiran saya. Bagaimana caranya agar saya bisa mengajar totalitas. Artinya, bagaimana semua mahasiswa bisa mendapat materi, mempelajari, dan memahaminya. Tidak sekedar saya memberi materi ataupun mahasiswa mendapat materi. Di era canggih ini, tentu banyak fasilitas yang memudahkan pekerjaan kita termasuk untuk mengajar. Ada yang berbasis video seperti zoom, webex, google duo, google meet, dll. Ada juga yang sebatas berkirim materi dan chatting melalui whatsapp grup. Perlu diingat juga, semua aplikasi tersebut pasti ada kelebihan dan kekurangannya.  Hampir semua orang pasti lebih memilih aplikasi berbasis video dalam proses pembelajaran. Selain mudah untuk menjelaskan materi, para pengajar juga dapat memantau anak didiknya. Berbeda dengan whatsapp grup yang tidak dapa...

Ide cerita baru

Pernah nggak sih kalian mikir keras sesuatu tapi nggak terjawab tapi ketika nganggur tiba-tiba kepikiran sesuatu dan itu hal yg baik? Saya tipe orang yg begitu. Lebih sering ide atau sesuatu yg baru muncul di saat nganggur, terurama menjelang tidur. Pasti kan ketika kita di kasur, lampu mati, mata merem, tapi belum bisa tidur. Isi kepala entah kemana tiba-tiba jadi pujangga yg terbersit suatu kalimat puitis. Anehnya, ketika bangun besoknya, semua kalimat itu hilang, lupa. Jadi, kalo sewaktu-waktu kejadian begitu, langsung bangun dan nulis di note hp. Beberapa hari yg lalu sempet kepikiran suatu ide. Hal sepele sih tapi biar keren disebut ide. Intinya sy mau cerita tentang "masak" di blog ini. Bukan sembarang cerita. Sy nggak akan buat tutorial masak atau bahkan nulis resepnya. Konsepnya adalah menceritakan pengalaman masak saya, apakah berhasil sesuai resep? Tentu akan saya cantumkan resep rujukannya. Kira-kira resep apa saja ya yg pernah saja coba?

Sombong? Boleh dong!

Gambar
sumber: flaticon.com Sebenernya sombong itu apa sih? Tujuannya untuk apa? Menurut pendapat pribadi, sombong itu menunjukkan ke orang lain tentang diri kita -tentang prestasi kita, kebaikan kita, kelebihan kita, dsb-. Untuk apa? Tentunya agar orang lain tahu keadaan kita tersebut dan mungkin mengharap pujian. Kalo tujuannya seperti di atas, tentu dilarang ya. Kenapa? Karena bisa jadi orang lain yg mengetahuinya akan minder bahkan insecure . Kita tidak tahu kondisi orang lain ya, jadi jangan sama ratakan dengan keadaan kita. Contohnya nih, ada orang yg menunjukkan prestasinya bahwa di usianya yang masih muda dia sudah bisa meraih berbagai prestasi. Ketika ada orang yg melihat atau mendengarkan, tentu dia akan membandingkan dengan dirinya sendiri. Dia mencari apa saja prestasi yg telah diraihnya selama ini. Jika tidak lebih hebat, tentu akan merasa rendah diri dan merasa gagal. Padahal bisa saja kondisinya memang tidak mendukung. Dia sudah berusaha maksimal namun lingk...

Pendidikan harus terus disampaikan

Gambar
PRIVILEGE  Kata tersebut identik dengan para pemimpin negara yang duduk di kursi panas. Apakah kita sebagai rakyat tidak berhak menyandang kata tersebut? Saat ini kita berada di kondisi serba terbatas. Terbatas bekerja maupun terbatas bepergian. Mungkin hal ini memiliki dampak positif seperti bisa berkumpul dengan keluarga. Namun, apakah setiap orang mampu mengatasi keterbatasan yang dialaminya? Keterbatasan-keterbatasan tersebut bagi sebagian orang menyebabkan terbatasnya keuangan, terbatasnya bahan makanan, bahkan terbatasnya tempat tinggal. Jangankan untuk membeli bahan makanan, tempat tinggal yang selama ini mereka tempati pun harus ditinggalkan karena keterbatasan keuangan. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, saya ingin bertukar pikiran mengenai pendidikan saat ini di masa pandemi. Keterbatasan yang telah saya tulis di atas, dapat berdampak pada terbatasnya akses informasi dan ilmu pengetahuan terutama bagi mereka keluarga kurang. Pad...

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Buat apa?

Gambar
Rasanya pasti kita semua pernah, bahkan sering membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Biasanya objek yang menjadi perbandingan adalah saudara kandung, teman, sahabat, siapapun. Pernahkah juga kita berpikir akibat dari hasil perbandingan itu? Maksudnya, apakah kita semakin termotivasi jika ternyata mereka memang lebih baik? Ataupun sebaliknya jika ternyata kita merasa jauh lebih baik dibanding mereka. Saya pernah dalam posisi seperti ini, membandingkan sendiri dengan orang lain. Sebagai perempuan, saya merasa wajar jika lebih mengedepankan emosi, termasuk aktivitas yang satu ini. Seingat saya, semua aspek yang ada di tubuh manusia menjadi dasar perbandingan, mulai dari segi fisik, pendidikan, latar belakang, agama, hingga sosial ekonomi. Hasilnya, saya kalah dari semua aspek tersebut. Selanjutnya? Tentu hari-hari terasa hampa, waktu berjalan lama, emosi diluapkan ke sekitar, apatis alias cuek. Tapi sekarang, saya malah tertawa ketika ingat kejadian ini. Ah, lebay...

Study From Home

Gambar
Masih berkaitan dengan kondisi saat ini, tentunya tidak hanya pekerja yang harus WFH alias work from home, para pelajar juga harus belajar dari rumah alias Study From Home (SWH). Mungkin kita berpikir bahwa SWH ini hanya akan berdampak bagi pelajarnya saja. Mereka yang tidak punya cukup kuota internet akan ketinggalan informasi dan mereka yang kurang ahli teknologi akan kesulitan mengakses informasi. Penerapan SWH yang terlalu lama pun bisa membuat mereka jenuh karena hanya di rumah saja (wajar ya terutama anak-anak yang lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah bersama temannya). Peran orang tua juga berpengaruh dalam SWH ini. Mereka yang kurang menguasai teknologi akan kesusahan terutama wali murid anak sekolah dasar dimana peran orang tua lebih besar pada tugas anaknya. Orang tua yang sibuk bekerja pun merasa susah membagi tugas antar pekerjaanya sendiri, mengurus rumah tangga, dan masih harus mengajari anak-anak mereka belajar. Faktor orang tua yang juga paling berpengaruh...